Friday, June 20, 2014

Cinta

Cinta
Bila kau sumber bahagia,
Mengapa duka selalu bersamamu

Bila kau adalah angin sepoi,
Mengapa badai selalu datang menyusulmu

Bila kau mata air yg memberi kesejukan,
Mengapa dahaga menjadi sahabatmu

Aku hanya ingin hidup dalam cinta,
Mengapa kini aku derita

Bahkan sang pencipta yang datang dengan cinta
Harus berakhir dalam siksa

Cinta
Bila kau adalah kehidupan,
Mengapa kematian yang ku rasa

-OTS-

Tuesday, May 6, 2014

Check Point: 25

Bagaimana rasanya sudah berusia 25 tahun?

Well, kita semua setiap tahun akan bertambah umurnya, tapi umur 25 berasa sedikit berbeda dibandingkan 0-24.

Perbedaan itu mungkin karena umur 25 tahun sering diartikan sebagai pesta perak. Gw kurang tau sih kalo umur orang yang 25 dianggep pesta perak juga ato gak, yang pasti konsep itu tertanam dalam diri gw sehingga menyambut umur 25 tahun ini gw merasa adanya perbedaan.

Bila rata-rata umur manusia 70-80 tahun, artinya saat ini gw sudah menjalani 1/3 dari perjalanan panjang hidup gw di dunia. Sebuah check point dalam hidup gw. Bukan kayak check point di game, yang mana kita bisa load data dari check point kalo misalnya mati ato kurang sempurna.

Check point yang gw maksud lebih seperti penanda: "Hello, jatah lu tinggal 2/3 lagi. 1/3 terakhir itu, 50-75, lu sudah tua. Artinya sisa petualangan lu tinggal 1/3 lagi, 25 tahun!"

Apa yang mau gw capai, apa yang mau gw usahakan, apa yang mau gw explore, semua harus dilakukan dalam jangka waktu 25 tahun ke depan....well....damn........

Anyway sebelum melihat ke depan, gw mau review ke belakang dulu.

Umur 0-21 merupakan masa yg gk produktif buat gw. Seperti kebanyakan anak di Jakarta, gw gk dibimbing untuk mencari jati diri. Jalan hidup gw udah ditentukan dari awal. Sekolah 12 tahun, kuliah, kerja di kantor yg bagus dgn gaji oke, naik pangkat, merid, punya anak, tua, mati.

Apa masalahnya dengan hal itu? Masalahnya adalah gw tidak dilahirkan untuk itu.

Di saat seharusnya gw fokus ke sekolah, gw lebih aktif di gereja. Gw belajar alkitab, paduan suara, organisasi misdinar, dan sesekali ngasih renungan dan pengajaran. I love music, reading, writting, and teaching, tp di sekolah hal itu tidak dianggep. Bahkan saat kuliah yang gw merasa agak salah jurusan yang akibatnya kuliah gw berantakan. Bisa lulus aja udah sukur :3

Efeknya baru terasa saat gw ultah ke 21. Saat seharusnya seorang laki-laki dianggap dewasa dan sudah bisa hidup sendiri di dunia, gw gk punya kemampuan yang cukup untuk mencari duit. Di kampus nilai gw jelek, bahkan passion gw seperti nyanyi, baca, dll blm sampai tahap bisa dijual karena motto gw sebagai orang Katolik yang saleh adalah "seadanya". Sebuah teologi yang salah yaitu sebagai murid Kristus kita harus rendah hati dan gak boleh menonjol. Kalo perlu kehadiran u gk disadari smua orang. Hal ini membuat gw gak pernah secara serius mengembangkan diri karena yang penting cukup untuk melayani di gereja.

Singkat cerita umur 21 merupakan titik balik kehidupan gw, yaitu gw mulai berfokus mencari jati diri, tujuan hidup, untuk apa seorang Rio dilahirkan. Hal yang sangat sulit karena gw dikelilingi orang-orang yang gk menganggap hal itu penting. Tanpa mentor yang bisa membimbing, gw berjalan dengan tuntunan Tuhan melalui buku-buku dan kejadian-kejadian yang diijinkan terjadi untuk mengarahkan supaya gw berjalan di jalur yang benar. Sebuah perjalanan panjang yang hingga saat ini masih gw perjuangkan. Hingga umur 25 ini masih banyak keraguan gw akan masa depan dan gw hanya bisa memaksakan untuk melangkah dengan iman.

Umur 0-25 (dan mungkin sampai beberapa tahun ke depan) merupakan masa menanam dlm hidup gw. Mungkin gw cukup terlambat untuk memulai dan hingga sekarang masih belum kelihatan hasilnya. Seperti membangun sebuah gedung tinggi, hidup gw sekarang masih mempersiapkan fondasinya. Saat semua orang seangkatan gw sudah mulai kelihatan bangunannya, gw masih memperkuat dasar gw. But, well, kita semua tau semakin tinggi bangunan itu maka semakin lama mempersiapkan dasarnya, jadi mungkin bangunan gw akan sangat tinggi jadinya ntar :p

Sebelum gw mengakhiri tulisan narsis ini gw mau mengucapkan terima kasih untuk semua orang yang menjadi bagian dlm hidup gw, yang sedikit banyak membentuk diri gw yang sekarang ini. Untuk orang tua gw yang gak kenal lelah membesarkan gw. Memenuhi semua kebutuhan gw. Keluarga gw yang menjadi orang terdekat dan membentuk hampir semua karakter gw di awal hidup gw. Teman-teman sekolah dari TK dan teman-teman PEU. Guru-guru, baik yang resmi maupun secara langsung maupun gk langsung mengajarkan gw banyak hal dalam hidup. Teman-teman pelayanan gw yang sangat membantu gw dalam pembentukan karakter gw. Segala pihak yang gk bisa disebutkan satu persatu (udah kayak kata sambutan ketua panitia...) dan yang paling penting gw sisakan di belakang yaitu Tuhan yang gw imani, yang gw percaya selalu mendampingi hidup gw. Yang membimbing gw sepanjang jalan, menemani di saat-saat gelap hidup gw. Bersukacita di saat-saat bahagia bersama gw. Guru besar dan mentor utama gw.

Thank you dan semoga ttp sabar gw ganggu lagi untuk bertahun-tahun ke depan karena gw akan hidup panjang HAHAHAHA

God Bless!

Wednesday, February 12, 2014

Manusia....

Manusia adalah makhluk yg aneh. Kita sulit lepas dr hal yang sudah biasa dilakukan, bahkan walaupun kita tau hal itu salah.

Smua orang modern (yg bukan angkatan babe gue) pasti tau kalo pendidikan di sekolah indonesia itu gk baik. Nilai bukan segalanya. Bahwa masih banyak skill lain yg berguna selain matematika fisika biologi.

Tapi anak kecil jaman sekarang masih tetep dipaksa dapet nilai bagus. Disuruh les ini itu biar jd juara kelas. Dianggep bego kalo nilai sekolahnya jelek.

Soal pacar"an juga sama.

Cowo-cowo. Biarpun smua udah tau kalo cowo itu gampang naksir cewe, dan penting utk kenal cewe lebih dalam sblm memutuskan buat pdkt, tp tetep aja cowo" bakal langsung pasang mode hunting tiap ketemu cewe cakep. Pdkt, jadian, baru sadar kalo gk cocok, baru sadar sifat aslinya cewe itu, ribut, putus.

Cewe-cewe. Smua jg tau kalo cowo" lg ada maunya pasti smua bae. Cowo jd lebih bae daripada malaikat pelindung kalo lagi dalam mode hunting. Tapi tetep aja cewe" bakal kleper" pas dibaein trus langsung cinta mati. Pas udah jadian, cowonya udah gk di mode hunting, sifat aslinya keluar, cewe kecewa katanya dia berubah, ribut, putus. Trus nyalahin cowo. Katanya semua sama aja.

Yah...itulah manusia

Monday, February 3, 2014

When God said: "Wait"

Kata orang, Tuhan menjawab doa dengan 3 jawaban: Yes, No, and Wait.

Itu tidak sepenuhnya salah, hanya kurang dijelaskan soal "wait"

Saat Tuhan berkata tunggu, Dia tidak menunggu saat yang tepat. Tuhan selalu tidak sabar untuk memberikan pada kita apa yang kita butuhkan. Tapi Tuhan menunggu saat kita sudah siap menerima berkat itu.

Dalam setiap hal, kita bisa melihat itu sebagai berkat maupun sebagai masalah. Sama halnya dengan jawaban atas doa. Tuhan kadang terpaksa menunggu untuk memberikan pengabulan doa kita karena Dia tau kita belum siap menerimanya yang pada akhirnya hanya akan menjadi masalah.

Sebagai contoh, bila seseorang berdoa minta jodoh tapi orang itu masih bermasalah dengan dirinya sendiri. Misalnya dia masih egois, insecure, dan posesif. Orang sebaik apa pun yang akan Tuhan berikan pasti tidak membuat hubungan tersebut berjalan lancar. Malah mungkin dia melewatkan orang yang tepat untuk hidupnya simply karena kekurangan karakternya untuk membina suatu relasi yang pada akhirnya malah membuat dia semakin jatuh.

Karena itu: "wait" bukan berarti kita harus menunggu, tapi Tuhan yang sedang menunggu kita siap untuk menerima berkat tersebut. Tuhan tidak bermasalah untuk mencurahkan berkat sebanyak mungkin untuk kita. Dia bahkan sangat senang untuk memberkati kita. Hanya saja Dia menunggu kapasitas karakter kita hingga tepat. Bayangkan bila kapasitas karakter kita hanya sebuah mangkok kecil dan saat Tuhan memberikan hujan berkat, kita hanya akan menerima sedikit dari kemurahan Tuhan dan malah akan kebanjiran karena air itu tidak dapat tertampung sehingga menjadi bencana.

Yohanes 15:7 "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya"

Tuhan menunggu kita untuk hidup dalam firman-Nya. Jangan membuat Tuhan menunggu lebih lama!


Wednesday, January 1, 2014

Resolusi 2014.....Bikin resolusi lagi???

Kurang lebih dari 2 tahun lalu gw pny resolusi untuk belajar nyetir.

Target itu tercapai akhirnya tahun lalu. Sekarang gw cukup lancar nyetir.

Kenapa butuh waktu lama "hanya" untuk belajar nyetir? Mungkin jawaban ini yang menjadi alasan banyak orang sudah gak percaya lagi dan sanksi sama yang namanya resolusi awal tahun.

Mau kurus?
Mau rajin olah raga?
Mau dapet pacar?
Mau ini dan itu?




Sebelum lanjut, gw mencoba memahami mengapa awal tahun dikaitkan dengan resolusi. Dengan perubahan.

Orang mengaitkan tahun baru dengan lembar baru. Padahal sih sama aja. hari ini sama seperti hari rabu minggu lalu. Kecuali karena Rabu minggu lalu gak libur :D

Menurut gw, semua itu karena kita pandangan umum. Kita memulai di tahun yang baru setelah 365 hari di tahun yang lalu dan sekarang kita mulai dari 1 lagi. 

Sebuah lembar baru siap untuk ditulis ulang. Melupakan yang sudah lewat di tahun sebelumnya. Konsep itu sudah tertanam matang dlm alam bawah sadar kita, sehingga setiap awal tahun kita merasakan energi berbeda, harapan baru untuk memulai dari awal untuk hidup yang lebih baik.


Gw juga merasakan hal ini. Bahkan untuk gw sendiri, awal baru bisa gw rasakan minimal 2x dalam setahun. Pertama adalah tahun baru tentunya. Yang kedua adalah saat gw ulang tahun. Dan yang lain dan jumlahnya gak pasti adalah saat gw selesai pengakuan dosa.

Keluar dari ruang pengakuan, gw merasa bersih lagi dan siap melindungi kesucian itu supaya gak tercemari dosa. Beda kalo selama berbulan-bulan gw sudah dikotori dosa, rasanya yaudahlah nambah 1 ato 2 dosa lagi gak masalah.




Nah kembali soal resolusi. Menurut gw sangat baik kita memanfaatkan euforia tahun baru ini untuk menyusun kembali kepingan diri kita yang sudah berantakan karena kesibukan dan rencana-rencana yang berantakan selama 365 hari kita hidup kemarin. Menyusun kembali rencana hidup kita, menentukan lagi prioritas penting yang mau kita jaga selama 365 hari ke depan.

Tapi ada suatu fenomena baru yang mengancam semangat ini. 

Kebanyakan setelah bertahun-tahun-tahun-tahun kita memulai tahun yang baru, dengan resolusi yang baru, kebanyakan tekad itu hilang hanya dalam waktu beberapa hari setelah tahun baru. Semangat baru ini tidak bertahan lama. Besok, saat memulai lagi aktifitas seperti biasa, kita kembali tenggelam dalam cycle kehidupan yang monoton dan menjemukan.

Untuk yang meluangkan waktu membuat dan menuliskan resolusi pun terkadang dengan cepat akan terlupakan, apalagi yang hanya ditulis di dalam hati.

Semua kegagalan dalam menjalankan resolusi selama bertahun-tahun bisa membuat semangat tahun baru menghilang. "Ngapain buat resolusi. Ntar juga gak ada yang tercapai."

Menurut gw hal itu berbahaya. Sangat berbahaya. Kenapa? Karena perubahan itu sulit dilakukan. Butuh sebuah 'sentilan' untuk membuat kita tersadar dan menjalani hidup dengan berbeda.

'Sentilan' ini biasanya hal yang gak enak. Kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang disayangi, penyakit berat, dll. Hal-hal semacam ini bisa membuat perubahan drastis dalam diri seseorang, baik ke arah yang positif, maupun negatif.

Tapi gak mau donk berubah karena masalah???
Makanya momen seperti ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena sulit bila suatu hari kita terbangun di hari yang biasa dan semua biasa lalu tiba-tiba kita bilang "mulai sekarang gw akan jadi orang yang lebih baik" dan seketika kita menjadi completely different person. Hal seperti itu mungkin....tapi sulit.



Kegagalan yang berulang-ulang bisa membuat kepercayaan diri seseorang hilang dan membuat orang itu jadi semakin negatif dan pesimis. Target dan resolusi yang tidak tercapai bila dilakukan berulang-ulang dan bertahun-tahun akan membuat kita menjadi pesimis dan kehilangan keajaiban tahun baru, keajaiban untuk berubah, keajaiban untuk memulai dari awal.

Karena itu penting untuk membuat resolusi yang masuk mungkin dipenuhi. Gak perlu terlalu besar, terutama bila kita sudah terlalu banyak gagal. Keberhasilan yang kecil namun banyak dapat membangun lagi kepercayaan diri. Target untuk setahun boleh dibuat, tapi jangan lupakan target jangka pendek, misalnya dalam 1 bulan ini.

Bisa juga buat target 1 tahun, dan dibuat detail langkah-langkah kecil untuk mencapai target besar itu jadi target jangka panjang itu gak lagi jadi impian belaka, namun menjadi mungkin terwujud.


And lastly, soal target dan resolusi dan target. Kadang target yang kita buat gak tercapai karena kemungkinan kita gak tau kenapa kita membuat target itu.

Orang yang agak gemuk kebanyakan akan membuat target supaya kurus. Tapi sebenernya dia gak tau kenapa dia harus kurus. Cuma kata kebanyakan orang, kurus lebih cakep jadi harus kurus. Dalam hatinya sendiri dia gak merasa kurus itu penting.

Atau contoh gw sendiri. Gw buat target untuk belajar nyetir karena sudah umur segini, cowo pula masa gak bisa nyetir. Tapi gw merasa gw gak butuh bisa nyetir. Toh enakan pake motor di jakarta. Kalo bisa nyetir juga gw gak akan sering-sering nyetir.

Sebelum kita menemukan alasan yang kuat utk melakukan sesuatu, kemungkinan untuk gagalnya besar. Karena itu buatlah target dan resolusi yang benar-benar dari hati. Sesuatu yang kita merasa kita butuh lakukan supaya kita jadi orang yang lebih baik.

Semoga tahun 2014 menjadi tahun yang luar biasa untuk kita semua


Tuesday, December 31, 2013

2014! Be Yourself!

Gw ganteng..
Selain itu gw juga baik hati, rajin menabung, rajin menjahit, dan rajin mencuci

dan yang pasti gw narsis :D

Be Yourself. Apa itu Be Yourself? Menjadi diri sendiri (gila gw pinter)

Tapi apa itu diri sendiri? Siapa itu Ryo? Gimana caranya menjadi diri sendiri?

Apakah dengan terus narsis artinya gw menjadi diri sendiri? Apakah misalnya gw menghilangkan sifat narsis gw artinya gw mengingkari diri sendiri?

Ada orang yang bilang kalo dia emang pemarah dari lahir. Jadi dia merasa berhak jadi orang pemarah karena dia cuma menjadi diri sendiri. Kalo gk seneng terserah lu. Hidup hidup gw sendiri kenapa lu atur-atur. Deal with it!

Ada yang bilang merasa terlahir sebagai orang yang penakut. Ada yang pemalas. Sukur-sukur ada yang merasa terlahir rajin.

So apa itu “diri sendiri”?



Menurut gw, sebagai seorang manusia, kita terlahir polos. Istilah kerennya selembar kertas putih.

Di kertas itu gak ada tulisan narsis.
Gak ada tulisan pemarah, penakut, pemalas, rajin, baik hati, suka menolong, dll

Putih, tanpa noda.

Diri kita yang sekarang merupakan tulisan yang tergores oleh orang di sekitar kita. Didikan yang kita terima. Teladan yang kita dapatkan.

Kalo kata psikolog, pembentukan karakter kita terjadi saat kita berumur 0-5 tahun. Ada yang bilang 7 tahun.

Well, dari umur 0-5 tahun gw bahkan gak inget apa-apa. Jadi sebenernya gw dibentuk tanpa sadar. Hanya menerima “tulisan” yang dituliskan oleh orang-orang di sekitar gw dan gw hanya diam tak berdaya melihat tulisan yang baik dan jelek di lembaran diri gw, dan gw menerima itu sebagai “myself”, padahal itu sama sekali bukan gw.

So, kalo ada orang yang bilang, “iya nih mo giamana lagi gw terlahir dengan sifat begini.” Orang seperti itu layak dikasihani karena dia menyerah pada keadaan. Dia tidak menjadi diri sendiri. Dia menjadi orang yang dibentuk oleh orang lain.

Jadi siapa diri sendiri itu?

Menurut gw lagi nih, diri kita terlahir dengan sebuah rencana.

Rencana yang sudah dipersiapkan Tuhan. Rencana yang tersembunyi di balik talenta. Tidak seperti karakter yang dimulai dari lembar putih dan baru ditulis setelah kita lahir, talenta sudah terpendam sejak kita belum lahir.

Singkatnya, menjadi diri sendiri adalah dengan memahami potensi terpendam yang kita miliki dan mengembangkannya, memolesnya, dan menggunakannya untuk memenuhi takdir kita sebagai manusia!

Dan menjadi diri sendiri berarti kita menyadari bahwa tulisan yang ada di lembar hidup kita sebagian besar ditulis oleh orang lain.
Menjadi diri sendiri artinya menyadari kalo kita punya kuasa untuk menghapus tulisan buruk dan menggantinya dengan yang kita mau (sebaiknya sih diganti yang bagus…)



Karena itu dipenghujung tahun 2013 ini, selain kita membuat resolusi dan target-target di luar diri, ada baiknya kita juga berfokus ke dalam diri kita sendiri. Menemukan diri kita sendiri dan mengembangkan diri kita sendiri.

Be Yourself!!!

Happy New Year. Have a wonderful year. God Bless~

Friday, November 22, 2013

Setia 101

Belakangan ini topik ‘setia’ banyak diangkat di Path, tentu saja selain segala macam ledekan misalnya sendal jepit aja punya pasangan atau sejenisnya, yang lagi booming.

Tapi terlepas dari segala macam hal gak jelas di path, topik setia ini cukup menarik. Setia itu terkesan sulit dilakukan. Setia sepertinya sudah sangat langka.

Well, tentu saja jaman sekarang trend selingkuh dan kawin cerai memang lagi booming jadi memang nilai kesetiaan terancam punah.

Karena itu gw mencoba menuangkan pendapat gw tentang ini. Tolong digaris bawahi bahwa ini adalah pendapat pribadi, tanpa dasar ilmiah yang logis dan yang bisa dipertanggung jawabkan jadi diharapkan tidak gampang percaya semua yang akan anda baca setelah ini :p

Setia…
bila berbicara tentang setia, orang jaman sekarang akan mengaitkan dengan sebuah relasi.

kepada pacar, yaitu satu pacar aja cukup, gak nambah, dan gak ganti-ganti sampe mati.

dan juga bila sudah menikah, setia pada pasangan sampe maut memisahkan.

Tapi sebenarnya setia itu jauh lebih luas daripada hanya sebuah relasi. Misalkan setia pada 1 handphone, setia dalam sebuah pekerjaan, setia dalam sebuah organisasi atau setia pada sebuah tanggung jawab.

Apa hubungannya dari segala bentuk kesetiaan itu?

Menurut gw, ‘setia’ merupakan bentuk lain dari ‘bersyukur’
Bila kita bersyukur akan sesuatu, kita akan setia pada hal tersebut. Sebagai contoh handphone gw yang sekarang bukan hape yang highend, tapi sudah cukup untuk menjalankan semua aplikasi android sampai game-game dengan grafis keren. Gw bersyukur atas hape ini jadi biarpun hape gw gak secanggih galaxy note 3, gw gak merasakan kebutuhan untuk ganti. Gw setia pada hape ini, tapi gw juga nabung buat beli note 3 sih :3

Sama halnya dalam sebuah relasi. Bila kita sudah bersyukur atas pasangan yang kita miliki, kita gak akan punya dorongan untuk ‘menambah’ atau ‘mengganti’ pasangan yang sudah dimiliki.

Jadi mengapa saat ini kesetiaan menjadi sesuatu yang langka?

Menurut gw hal itu terjadi karena dunia saat ini menanamkan hasrat untuk selalu tidak puas. Untuk selalu tidak bersyukur.

Orang yang kurus mau gemuk, yang gemuk mau kurus.
Yang berambut lurus mau keriting, yang keriting mau lurus.
Yang berkulit cokelat mau jd putih, yang putih mau cokelat.

Dalam hal berpacaran, figur ideal yang dibentuk oleh media juga berpengaruh. Misalnya seorang cowo yang punya pacar cantik, saat melihat kaki personil SNSD yang putih panjang akan membandingkan dengan kaki pacar cantiknya yang mungkin kurang putih dan kurang panjang. Dan saat dia pergi ke Mall, banyak cewe mulai memamerkan kaki putih panjang mereka. Akhirnya perlahan-lahan dia tidak lagi melihat kelebihan dari pacarnya melainkan melihat kekurang panjangan kaki pacarnya.

Ditambah lagi trend konsumtif telah mengajarkan ketidak puasan dan membuat orang berlomba-lomba memiliki segala yang dia miliki. Selama lu sanggup, lu bisa memiliki segala hal. Jadi mengapa hanya puas dengan 1? Lihat jaman sekarang sangat jarang orang yang hanya punya 1 hape. Dan juga selama lu sanggup manage 2 pacar kenapa cukup 1?

Jadi bagaimana menjadi orang yang setia? Dengan memiliki hati yang bersyukur. Hati yang bersyukur juga tidak muncul dengan sendirinya, perlu dilatih setiap hari, mulai dengan mensyukuri hal-hal kecil dan mencukupkan diri dengan hal-hal sederhana.

Setia bukan soal menutup mata akan hal lain dan fokus pada yang ada di depan mata saja. Setia adalah sikap hati untuk ‘sangat-sangat bahagia’ dengan apa yang ada di depan mata, jadi biarpun kita melewatkan banyak hal kita tidak merasa rugi karena yang di depan mata sudah lebih dari yang kita butuhkan.

Sebuah kesetiaan buta dapat akan menghancurkan diri kita sendiri, menghambat pertumbuhan kita hingga kita tidak akan mencapai potensi terbaik kita. Bahkan bisa saja kesetiaan buta bukanlah kesetiaan, melainkan karena kita merasa kita tidak layak untuk mendapatkan yang lebih baik.

Misalnya kita memang perlu setia bila kita mendapatkan sebuah pekerjaan. Tapi bukan berarti kita harus bekerja sampai mati di tempat itu. Mungkin kita bisa setia di suatu perusahaan sampai pensiun, tapi bila memang hal itu layak diperjuangkan. Tapi bila kita merasa potensi terbaik kita tidak akan tercapai bila kita tetap di tempat itu, sudah saatnya kita melepaskannya dan mencari tempat yang lebih baik, bukan karena kita tidak suka dengan pekerjaannya karena kurang ini dan itu.

Sama dengan bila kita sudah memiliki pacar. Bila kita tau kalau dia bukan orang yang tepat, kita harus bisa melepaskannya. Misalnya bila kita tau ternyata pacar kita seorang pengedar narkoba, secepatnya lepaskan diri darinya. Atau kalau kita tau dia bukan orang yang setia dan punya koleksi lain.
Gw punya pendapat bahwa, menciptakan sebuah hubungan baru dan mempertahankannya jauh lebih mudah daripada mengetahui kapan harus berhenti dan bagaimana untuk berhenti dari suatu hubungan.

Tanpa kebijaksanaan, kita dapat menjadi sangat bodoh dan memberikan permata kepada babi (Matius 7:6)

Loyalitas merupakan sesuatu yang bernilai sangat mahal, jangan sampai kita dengan bodoh memberikannya pada orang yang salah.

Kita boleh loyal pada satu perusahaan, selama perusahaan tersebut juga memperlakukan kita dengan layak.

Kita boleh setia pada seorang pacar, bila memang dia orang yang tepat.

Kita boleh setia pada sebuah hape, hanya bila hape tersebut dapat memenuhi semua kebutuhan teknologi kita.

Karena itu jangan dengan cepat memberikan kesetiaan kita. Misalnya baru aja jadian sudah menulis di twitter “you are my last”

Untuk belajar menjadi setia bukan dengan bertahan sekuat tenaga untuk tidak berpaling, tapi cukup belajar bersyukur atas hal-hal yang terjadi setiap hari. Jangan terpengaruh pendapat dunia untuk memberikan kesetiaan secara buta. Jangan merasa gagal bila harus berhenti dan mendapatkan cemoohan orang bahwa kita bukan orang yang setia.

Sebagai contoh terakhir, gw terkenal setia pada android dan gak suka sama produk apple. Tapi bila suatu saat Android sudah mulai jelek, dan iOS menjadi lebih baik, gw gak akan dengan buta tetap mempertahankan android dan gw akan pindah ke apple. Kesetiaan perlu terus dievaluasi dan butuh keberanian untuk berubah karena kita bisa dicemooh banyak orang. Tapi apa peduli kata orang? Kesetiaan ini punya gw dan gw yang tau kepada siapa harus gw berikan toh?

Sebagai penutup gw akan mengutip dari injil Matius 7:6
“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

Enjoy~